Tuesday, November 13, 2007

Tour of Duty - Tanjungpandan, Belitung

Senin pagi, 27 Agustus 2007, saya harus melakukan tugas presentasi Laporan Pendahuluan terkait dengan pekerjaan Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kecamatan Selat Nasik. Kebetulan dalam tim tersebut, nama saya tercantum sebagai ketua tim (team leader). Acara rencananya dilaksanakan pagi sekitar pukul 09.00 wib, oleh karena itu saya bersama tim berangkat hari Minggu-nya (26 Agustus 2007).
Penerbangan Jakarta-Tanjungpandan ini hanya dilayani oleh dua maskapai penerbangan nasional, yaitu Lion Air dan Batavia Air. Saya dipesankan oleh konsultan yang menugaskan dengan menggunakan Lion Air yang jadwalnya penerbangan pukul 06.45 wib. Minggu pagi-pagi sekali (pukul 04.00 wib) saya sudah siap untuk berangkat menuju bandara. Saya dijemput ke rumah oleh cecep -- teman dari konsultan -- tepat pukul 04.00 dan kami pun segera meluncur menuju bandara. Kami sengaja berangkat lebih awal karena mengejar solat subuh di bandara. Setibanya di bandara – kira2 pukul 05.00 – kami pun langsung saja chek in dan masuk ruang tunggu di terminal I-A serta langsung melakukan solat subuh.
Seperti biasa, bukan Lion Air namanya kalau tidak “terlambat”. Pagi ini pun penerbangan Lion menuju tjg.pandan sempat delay kurang lebih 30 menit. Ya rasanya kami jadi terbiasa juga dengan kebiasaan buruk Lion Air ini, malah kalau tidak delay rasanya jadi aneh…he he. Penerbangan Jakarta-Tanjungpandan ditempuh sekitar 45 menit, dan kami pun tiba di Bandara Hanan Djoeddin sekitar pukul 08.00 wib.
Dari bandara, kami langsung menuju Kota Tanjungpandan dengan menggunakan kendaraan carteran yang sudah dibooking dari Jakarta sebelumnya. Pa Edy -- nama sopir yang siap mengantar kami selama kurang lebih 2 hari berada di tanjungpandan – langsung mengantar kami untuk menuju penginapan di pinggiran pantai (lupa hotel apa namanya ya..?). Setelah beres dengan urusan hotel, kami langsung mencari sarapan pagi karena di pesawat kami memang sama sekali tidak diberikan sekerat roti pun. Ini kalau ketahuan bang haji, pasti dia bilang “t e r l a l u”.
Setelah sarapan pagi, kami langsung mengajak Pa Edy untuk keliling ke obyek wisata terdekat yang bisa kami kunjungi. Dan pa Edy pun mengantar kami ke pantai Tanjungtinggi. Perjalanan ke Tanjungtinggi ditempuh sekitar tiga puluh menit dari Tanjungpandan.
Tanjungtinggi ini merupakan satu keajaiban alam yang bisa saya saksikan. Pantai yang penuhi dengan tonjolan batu-batu granit dari dalam laut, pasir putih yang menghampar, serta laut hijau biru yang tenang membuat saya ingin menceburkan diri kedalamnya di tengah panas terik matahari.
Pantai Tanjungtinggi benar-benar indah! Pasirnya halus putih, airnya bening hingga tembus ke dasar dengan gradasi warna biru tua ke biru muda lalu transparan saat menyentuh pasir putih di tepian. Tidak ada ombak sama sekali, sehingga permukaan airnya yang tenang seakan memiliki daya magis yang mampu menarik siapapun untuk membasahkan kaki. Bebatuan yang sebesar rumah dan setinggi gedung bertingkat, menambah daya pukau pantai yang berjarak 30 kilometer utara Tanjung Pandan ini. Fenomena alam yang umumnya ditemui di pegunungan atau daratan tingggi hadir dalam tata letak yang cendrung semrawut. Ada batu yang solo di tengah laut, ada yang mengelompok di bibir pantai, ada juga dua tiga di daratan. Sampai ada yang berkomentar “Seperti jatuh berserakan dari langit ya…” .
Setelah kami bertiga puas melihat dan memandangi indahnya suasana pantai Tanjungtinggi, kami pun kembali ke Tanjungpandan dan menuju hotel tempat kami menginap untuk beristirahat persiapan presentasi esok hari. Selama perjalanan menuju ke Tanjungpandan, saya berpikir bahwa sebetulnya Belitung ini mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai daerah wisata seperti Bali misalnya. Karena, pantainya begitu masih asli sekali, hanya memang masih memerlukan modal dan investasi yang besar untuk dapat mengembangkannya. Seain itu, perlu juga danya dukungan dari masyarakat setempat dalam upaya pengembangan pariwisata ini.
Senin paginya, acara presentasi berjalan cukup lancar. Kebetulan, kami datang lebih awal, jadi tim kami dapat giliran pertama untuk mempresentasikan hasil kajian awal kami dan metodologi serta rencana kerja kami selanjutnya. Hari itu, kami dari konsultan terdiri dari 3 orang, yaitu saya sendiri sebagai ketua tim, Ibu Yulia Asyiawati (ahli Perencanaan dan Manajemen Kelautan), serta Cecep (asisten tenaga ahli). Setelah acara selesai, kira-kira jam 13.00 wib, kami bersama tim konsutan dari Bandung berembug untuk mengajak beberapa tim dari Bappeda Belitung makan siang bersama.
Kalau cerita masalah makanan, di tanjungpandan ini ada beberapa jenis makanan khas belitung, antara lain ; Gangan, Mie Belitung, Minuman Es Jeruk Kunci. Gangan adalah masakan khas Belitung, dilihat dari warnanya saya menyangka kalau akan merasakan kekentalan dan rasa pedas, tapi ternyata sayur yang isinya daging dan kepala ikan ini sangat segar. Segar sekali malah, langsung saya jatuh hati pada kecapan pertama. Kalau Mie Belitung hampir sama dengan mie Jawa dan Mie Medan. Mi kuning berukuran spagheti dengan siraman kuah kental kecoklatan, ditambah tauge, ebi dalam butiran-butiran kecil, potongan tahu goreng, ditaburi bawang goreng dan kerupuk plus emping di atasnya. Tanpa perlu dikomando, masing-masing langsung fokus pada mi masing-masing. Rasanya gurih, manis, sedikit asem (diberi perasan jeruk kunci) dan serentak kami saling mengacungkan jempol sambil bergumam… mantaap nih. Minuman khasnya Es Jeruk Kunci. Hasilnya, semua kenyang, beberapa kepedasan dengan sambalnya yang dahsyat, plus disegarkan dengan es jeruk kuncinya.

Sementara hanya ini yang bisa saya ceritakan dari perjalanan tugas saya ke tanjungpandan, karena esok harinya saya harus sudah kembali ke Jakarta.

Monday, November 12, 2007

BUSWAY : Solusi atau Masalah ... ?

Minggu-minggu ini, warga Jakarta banyak yang terjebak macet akibat pembangunan jalur bus khusus alias busway. Ini bukan sikap yang cengeng karena kenyamanan mereka terganggu. Keluh-kesah muncul karena memang kemacetan yang terjadi sangat luar biasa. Bisa dibayangkan, akibat pembangunan koridor baru busway, nyaris seluruh Jakarta dilanda macet. Lalu lintas yang tersumbat terentang dari kawasan Slipi di barat; sepanjang Bypass di bawah jalan tol Cawang-Tanjung Priok di timur; hingga Jalan M.T. Haryono, kawasan Pondok Indah, dan Lebak Bulus di selatan. Situasi ini juga diperparah oleh datangnya musim hujan. Genangan air, jalur jalan yang menyempit, pemakai jalan yang tak berdisiplin, semuanya memperparah kesengsaraan itu.

Begitu parahnya kemacetan yang ditimbulkan oleh adanya pembangunan koridor busway tersebut, ditambah adanya desakan dari sebagian masyarakat yang secara langsung terganggu, sampai-sampai pada Kamis, 08 Nopember 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memanggil Gubernur DKI Jakarta dan memerintahkan Pemprov DKI Jakarta segera mengambil langkah ekstra dan melakukan operasi khusus guna mengurai kemacetan di Ibu Kota. Pembenahan sistem transportasi di Jakarta diharapkan diselesaikan secara menyeluruh. Pada kesempatan itu pun presiden menekankan untuk dilakukan peningkatan sense of crisis. HIngga saat ini, Presiden sudah menerima keluhan luar biasa banyak dari warga Jakarta terkait kemacetan akibat ekspansi pembangunan koridor busway.

Tulisan ini hanya ingin sedikit mengulas mengenai kebijakan busway yang saat ini sedang dikembangkan oleh Pemerintah DKI Jakarta. Seyogyanya, suatu kebijakan diambil untuk dapat mengatasi persoalan atau permasalahan yang ada, tapi tidak demikian dengan kebijakan busway di DKI Jakarta ini. Bukannya menjadi "solusi" malah menjadi "masalah".

Saya tidak ingin mengatakan bahwa pembangunan busway tak perlu dilanjutkan, karena pengembangan Busway sebagai transportasi massal tetap menjadi sarana transportasi yang penting di masa mendatang, dan proyek ini tetap perlu kita dukung. Hanya mungkin, manajemen pengerjaan proyek ini harus segera dievaluasi. Kalau perlu, tunda pembangunan koridor baru sampai ada langkah-langkah yang jelas untuk mencegah dampak kemacetan yang terjadi.

Berdasarkan fakta yang saya cermati, ada beberapa hal yang terkait dengan pelaksanaan pengembangan koridor Busway di ibukota ini, antara lain :

Pertama, kebijakan pengembangan Busway di DKI Jakarta ini terkesan begitu "dipaksakan" dan lebih memikirkan kepentingan segelintir orang yang barangkali akan mendapat keuntungan dari adanya proyek ini. Hal ini terutama dapat dilihat dengan tetap memaksakan membangun jalur bus (busway) untuk beberapa koridor jalan yang memang tidak memadai (seperti : koridor antara Cililitan - Pasar Rebo). Seharusnya, sebelum kebijakan ini dilaksanakan, pemerintah DKI Jakarta terlebih dahulu melakukan kajian secara komprehensif atau semacam studi kelayakan terhadap aspek teknis, ekonomi, dan sosial. Sehingga, dapat diperoleh hasil kajian yang menggambarkan kawasan-kawasan mana saja yang memang "feasible" untuk dibangun busway.

Kedua, kebijakan pengembangan Busway ini belum sepenuhnya memikirkan terhadap prasyarat-prasyarat kondisi yang harus dipenuhi terkait dengan pengoperasian busway sehingga benar-benar secara efektif dapat mengatasi kemacetan lalu lintas di ibukota. Prasyarat kondisi yang dimaksud antara lain : kondisi jalan dengan standar lebar berapa kah yang memang layak untuk dapat dibangun busway, upaya alternatif pengganti akibat penutupan trayek-trayek angkutan umum (mikrolet dan metro mini) yang sebelumnya sudah ada pada koridor yang akan dibangun busway, dan lain sebagainya. Jika kondisi ini belum terpenuhi, maka pembangunan busway di DKI Jakarta tidak akan menjadi "solusi" melainkan justru menjadi "masalah" baru. Contoh saja, jika lebar jalan yang dibangun busway itu tidak memenuhi syarat seperti yang terjadi pada koridor antara Cililitan dan Pasar Rebo, maka justru yang terjadi malah transportasi menjadi tambah macet. Begitu pun, jika trayek yang sebelumnya sudah ada tidak dihapus, maka yang terjadi adalah tumpang tindih (overlapping) trayek yang justru akan menambah beban jalan yang ada.

Seharusnya, pemerintah DKI Jakarta sudah memikirkan semua itu, karena saya yakin setiap kebijakan atau program pemerintah sudah melalui kajian kelayakan dan perencanaan yang matang. Bahkan seharusnya, untuk program-program pembangunan transportasi seperti busway ini sudah dilakukan kajian analisas manfaat dan dampak lingkungan dan lalu lintas (AMDAL-LALIN) yang akan ditimbullkan.

Saat ini, memang yang perlu dilakukan pemerintah DKI Jakarta adalah melakukan kajian ulang (evaluasi) secara menyeluruh terhadap kebijakan pembangunan busway ini, sehingga diharapkan penerapan kebijakan pembangunan bsuway di DKI Jakarta ini akan menjadi efektif dalam upaya mengurangi kemacetan di ibukota. Bukan begitu Bang Foke...?

Wallahu 'Alaam Bishawaab...

Wednesday, November 7, 2007

Walimatussafarhajj…

Walimatussaffarhajj, begitulah biasa orang menyebutnya, dan kalau dikampung saya biasa disebut “Ratiban”. Walimatussfarhajj atau Ratiban ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan ritual bagi ummat islam yang akan menunaikan rukun islam yang ke lima, yaitu Ibadah Haji. Saya pribadi melihat kegiatan ini merupakan suatu media untuk melakukan silaturrahmi dan permohonan maaf calon haji kepada masyarakat sekitar rumah kediaman calon haji dan keluarganya. Saya sendiri belum tahu persis apakah ini merupakan tradisi masyarakat kita atau memang hanya fenomena tradisi yang berkembang belakangan ini.

Sampai saat ini, saya masih belum menemukan dalil yang secara langsung men-sunnah-kan kita mengadakan acara ritual khusus yang disebut sebagai walimatussafar atau ratiban ini. Saya tidak menemukannya baik di dalam Al-Quran maupun di dalam hadits nabi SAW. Dalam pandangan saya, kalau pun praktek mengundang tetangga atau kerabat menjelang kepergian dilakukan, mungkin lebih dimotivasi karena ingin melakukan perpisahan sambil melakukan penyampaian maaf dan washiat. Sebab melakukan perpisahan, memohon maaf dan berwashiat menjelang safarhajj (perjalanan haji) memang bagian dari hal yang dianjurkan, dengan harapan agar kita terbebas terlebih dahulu dari kesalahan dan kekhilafan yang barangkali pernah kita perbuat. Sehingga, kita diharapkan telah benar-benar bersih dan siap untuk memenuhi panggilan allah. Labbaik, allahumma labbaik….

Konon, memang yang paling baik adalah mendatangi satu demi satu, pintu demi pintu seluruh tetangga yang di sekitar kita maupun sanak family untuk memohon maaf dan memberitahukan jika kita insyaa allah akan menunaikan ibadah haji. Tapi apakah mungkin, kalau kita harus mendatanginya satu per satu, pintu demi pintu, sementara begitu banyak masyarakat di sekitar kita, di satu kelurahan saja. Apalagi, sanak family kita yang bisa jadi tersebar di berbagai kota.
Ada sebagian masyarakat, termasuk ada salah satu anggota keluarga kami pun yang kurang setuju dengan acara seperti ini. Karena menurut sebagian orang , dikhawatirkan malah jadi bersifat “RIA” (ingin dipuji oleh masyarakat). Ya, kalau saya pikir sih, itu semua kan tergantung niatnya saja. Ya kan ? Innamal A’malu Binniyaat, segala amal perbuatan itu tergantung niatnya. Wallahu a’laam bis-shawaab…

Dengan niat baik serta persiapan yang singkat dan sederhana, minggu, 4 Nopember 2007, keluarga besar mertua saya mengadakan acara walimatussafarhajj ini dalam rangka keberangkatan kedua orang tua istri saya, Bapak Wasro bin Maoed dan Ny. Fatonah binti Sadnan. Acara hari ini dilakukan secara sederhana dan mengundang masyarakat di sekitar kediaman mertua saya serta sanak keluarga. Insya allah, kalau tidak ada halangan kedua orang tua kami akan berangkat menuju embarkasi Asrama Haji Pondok Gede pada tanggal 17 Nopember 2007. Selamat menjadi tamu Allah (Dhuyufullah), Selamat menunaikan ibadah haji, semoga menjadi haji yang mabrur dan mabrurah…

Jakarta, 05 Nopember 2007

Wednesday, October 10, 2007

Tour of Duty (1993) - Padang, Solok, Medan, dan Tanjungbalai

"Tour of Duty", inilah istilah yang biasa saya pakai untuk menyebut "perjalanan" saya dalam rangka melaksanakan tugas profesional sebagai seorang planner. "Planner" - begitulah sebutan bagi profesi kami, yang terkadang masih bisa ditambah dengan embel-embel Regional Planner, City Planner, Rural Planner, Urban Planner, Transport Planner dan bahkan ada juga yang biasa menyebut dengan plesetan Uban Planner (planner yg sudah beruban atau senior). Yah, tergantung "obyek" yang sedang digarapnya, jadi conditionally sifatnya.

Sebutan tour of duty ini diilhami oleh judul film seri di televisi yang ditayangkan era tahun 70-an (CMIW). Intinya, saya menganggap ada kesamaan antara profesi saya dengan para tentara dalam film tsb. Hanya yang membedakan obyek dan tugasnya saja. Kalau, para tentara tsb. harus slalu siap ditugaskan oleh atasannya ke mana saja, maka kita para planner ini juga harus slalu siap untuk ditugaskan di mana pun "tugas memanggil". Bahkan, ekstrimnya, walaupun daerah yang akan dituju baru terkena bencana, gempa dan tsunami.

Tour of Duty pertama yang saya lakukan sekitar tahun 1993, yaitu waktu saya ditugaskan untuk menjadi asisten planner pada pekerjaan Perencanaan Peremajaan Kawasan Kumuh di Kota Padang dan Kota Solok (Sumatera Barat) serta Kota Tanjungbalai (Sumatera Utara).
Perjalanan ke tiga kota tsb. saya lakukan secara menerus dari jakarta - padang - solok - medan - tanjungbalai - medan - jakarta, karena memang perjalanan kali ini adalah hanya untuk melakukan verifikasi saja terhadap kondisi lapangan yang sebelumnya sudah disurvei oleh team leader dan tim lainnya.

Pada saat saya melakukan tugas ini, saya masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir (sedang tesis) yang sedang nyambi kerja di konsultan, yaitu PT. Priyaga Mitra Konsultan. Waktu itu, saya ditugaskan bersama dua rekan tenaga ahli lainnya, yaitu Pa Pujiatno Mukti (Aji) - arsitek undip, Pa Sudigyo (Obos) - teknik lingkungan ITB. Waktu itu juga bertepatan dengan Bulan Ramadhan dan alhamdulillah selama melakukan perjalanan tugas tsb saya tetap melakukan kewajiban puasa.

Begitu banyak kesan yang saya rasakan selama melakukan tour of duty kali pertama tsb., karena ini adalah kali pertama saya menjalankan tugas sebagai planner dan juga kali pertama saya naik pesawat serta kali pertama mengunjungi kota-kota tsb.

-the few-the proud-the planner-